



Pembelajaran sastra di sekolah sering dianaktirikan. Guru sering melewati atau tidak mengajarkan sastra. Pembelajaran sastra dianggap tidak penting, menghabiskan waktu, dan tidak dapat mendongkrak nilai ujian nasional. Sebab, soal-soal yang terkait dengan materi sastra sangat sedikit, bahkan tidak ada.
Salah satu sebab diabaikannya pembelajaran sastra di sekolah adalah langkanya media yang bisa dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran sastra. Sebagai contoh, ketika guru mengajarkan materi menanggapi pembacaan cerpen, puisi, atau drama, guru memerlukan media berupa rekaman atau contoh/model pembacaan cerpen, puisi, atau drama. Bila media itu tidak ada, pembelajaran menanggapi materi cerpen, puisi, atau drama tidak akan dapat dilaksanakan. Berarti, proses belajar-mengajar sastra tidak dapat dilaksanakan.
Kelangkaan media juga mengakibatkan pembelajaran sastra hanya difokuskan pada kegiatan yang bersifat hafalan. Bukan kegiatan apresiatif, yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan wawasan kehidupan dan wahana berpikir kritis dan kreatif.
Sebagai contoh, ketika guru akan membelajarkan menanggapi pementasan drama dengan argumen yang logis, guru antara lain memerlukan media berupa rekaman pementasan drama. Dari rekaman itu, siswa mengamati, menganalisis, melakukan apresiasi, dan akhirnya memberikan komentar tentang kelebihan dan kekurangan drama tersebut dari berbagai aspek.
Jika media berupa rekaman pementasan drama tidak ada, mustahil pembelajaran sastra ini dapat dilaksanakan dengan baik. Rekaman pementasan drama memiliki beberapa keunggulan. Yakni, menghemat waktu, otentik, dan lebih menarik perhatian siswa.
Dalam pembelajaran sastra, media memegang peran sangat penting. Tanpa media, pembelajaran tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Karena itu, perlu dikembangkan secara serius media untuk pembelajaran sastra di sekolah.
Media dalam pembelajaran sastra harus memenuhi kriteria beriku: (1) dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan apresiasif dan wahana berpikir kritis dan kreatif; (2) menarik bagi siswa; (3) mudah disiapkan dan digunakan dalam pembelajaran. Salah satu media yang sesuai dengan kriteria tersebut adalah lagu.
Lagu dapat dipakai untuk menanamkan beragam konsep tentang puisi, unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik puisi, dan dapat digunakan untuk memicu kegiatan menulis puisi, cerpen/novel, bahkan drama. Kelebihan media ini adalah menarik (hampir semua siswa suka lagu), mudah didapat, murah, mudah disiapkan dan digunakan, memberikan beragam pengalaman konkret secara langsung. (soe) [Jawa Post Kamis, 05 Februari 2009 ]











